Akibatnya
punk dicap sebagai musik
rock n’ roll aliran
kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara
televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Memasuki dekade 70-an,
punk mulai menemukan bentuknya seperti
yang kita kenal sekarang. Ciri pemberontakannya makin kentara, dan
segala rupa aksi panggung yang ugal-ugalan pun mulai muncul. Dari
generasi pelopor
punk ini ada dua nama yang boleh disebut paling menonjol yaitu MC 5 dan Iggy and The Stooges.
Iggy adalah salah satu dari segelintir pentolan
punk yang kiprahnya masih berlanjut sampai dasawarsa 90-an. Dan seiring dengan lahirnya generasi baru
punk rock, namanya pun makin diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam musik
rock pada umumnya, dan
punk pada khususnya.
Tahun 1975 lahirlah beberapa grup musik baru seperti Blondie yang
ngepop, Talkin Heads yang avant garde, The Voidoids yang berkutat dengan
gitar, dan The Dead Boys yang nyeleneh. Dan ada The Ramones. Ramones
punya citra seperti tokoh kartun. Empat anak jalanan asal Queens yang
tampil gahar dengan jaket kulit dan jeans belel, seperti geng.
Gerombolan ini memancang mitos bahwa mereka satu keluarga. Pada tanggal 4
Juli 1976,
Ramones mengadakan konser perdananya di Inggris. Entah itu tanggal
keramat atau apa, konser mereka meninggalkan bekas yang dalam diri kaum
muda Inggris yang menyaksikannya. Konser itu disaksikan oleh para
pentolan grup yang belakangan memotori kebangkitan
punk di Inggris, yaitu Sex Pistols, The Damned, dan The Clash.
Dari Sex Pistols hingga Green Day
Sex Pistols dan The Clash memasukkan aspek baru dalam perkembangan
punk,
yaitu protes sosial dan politik. Kedua grup ini menjadi penyambung
lidah kaum muda Inggris yang frustrasi. Mulailah mereka menyuarakan
protes terhadap segala ketidakadilan yang mereka lihat sehari-hari. Cuma
saja pendekatan mereka berbeda, sesuai dengan latar belakang kehidupan
masing-masing.
Di tahun 1980-an, di saat era
punk di Inggris datang dan pergi, di berbagai penjuru dunia mulai muncul berbagai macam
band beraliran
punk
dan belakangan menjadi legenda setempat. Di Irlandia, misalnya, ada
grup The Understones. Di Australia ada The Saints. Dan di Selandia Baru
ada The Clean.
Di Amerika gelombang terbaru pemusik
punk AS bukan berasal dari
New York, melainkan dari California. Generasi ini mendapat pengaruh
yang sama besar dari The Ramones dan Sex Pistols. Tapi agak lain dengan
kedua mentornya itu, mereka sangat serius menghayati prinsip-prinsip
dasar
punk. Bagi mereka
punk bukan sekadar aliran musik, melainkan juga identitas, gaya hidup, bahkan juga gaya hidup bahkan prinsip.
Di selatan LA, tepatnya di Hermosa Beach, sebuah kelompok
punk
metal baru bernama Black Flag bela-belain menyewa gereja sebagai tempat
latihan mereka. Tempat ini selanjutnya menjadi pusat kegiatan pencinta
punk
setempat. Grup-grup yang lahir di sana The Circle Jerk, Social
Distortion, dan Suicidal Tendencies, dan lain-lain. Mereka lebih
berhaluan keras. Penampilannya lebih brutal dan liriknya lebih radikal.
Sementara di San Francisco aliran
punk lebih berpolitik. Di
sana muncul nama-nama macam The Avengers, The Dils, dan yang paling
dominan The Dead Kennedys. Grup yang terakhir disebut tadi melancarkan
protes keras terhadap berbagai hal, mulai dari kebijaksanaan pemerintah
sampai fasisme. Musik mereka berada di perbatasan antara
punk yang melodius dan hardcore murni.
New York juga melahirkan grup-grup yang belakangan memperkaya khazanah
musiknya dengan unsur lain, seperti Beasty Boys dan Sonic Youth. Dan ada
juga The Misfits, yang mengungsi dari New Jersey.
Pada akhir tahun 1980-an benih kebangkitan generasi kedua mulai ditanam
di LA. Dulu, awal dasawarsa ini, di San Fernando pernah berdiri sebuah
grup
band bernama Bad Religion. Bad Religion memiliki
personelnya yang rata-rata sangat intelek. Saking inteleknya, lagu
mereka sering memakai kata-kata yang membuat orang Amerika harus membuka
kamus. Bad Religion merupakan
band yang memelopori berdirinya generasi baru grup-grup
punk California. Sebut saja macam Dag Nasty, Pennywise, NOFX, dan belakangan tentu saja Rancid, Offspring, serta Green Day.
Punk dan Gaya Hidup
Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu
punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni
avant-garde, yaitu dandanan
nyeleneh, mengaburkan batas ant
ara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens
secara terang-terangan, menggunakan para performer berkualitas rendah,
dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya
hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal,
bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran.
Banyak yang menyalahartikan
punk sebagai
glue sniffer
dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau
tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula
yang merusak citra
punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut
mohawk ala suku indian, atau dipotong ala
feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu
boots, rantai dan
spike,
jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, antikemapanan,
antisosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk
berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan
seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai
punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan DIY atau do it yourself. Penilaian
punk
dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya
yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi,
ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
Punk dan Anarkisme
Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia
punk pada saat itu.
Band-
band punk
gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge
dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari
Amerika telah mengubah kaum
punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (
rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja
rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh
band-
band punk
gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash,
dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan
kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri
musik.

Kaum
punk
memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam
keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari
masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan
sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka.
Keterlibatan kaum
punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena
punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan
punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-
punk. Dari tahun ke tahun, musik
punk terus mengalami perubahan bentuk. Yang tidak berubah adalah semangat pemberontakannya.
* dari berbagai sumber
Foto: www.hollowgallery.com